Jumat, 13 Oktober 2017

Menikmati Kerlap-kerlip Halaman Belakang Keraton Saat Malam di Alun-alun Kidul



Dalam tatanan arsitektur tradisional Jawa yang lebih dikenal dengan istilah Catur Gatra Tunggal yang artinya empat elemen dalam satu kesatuan. Hal ini dapat disaksikan di sebuah keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang mana ini adalah tempat berdirinya sebuah keraton, masjid, alun-alun, dan juga pasar.
Masing-masing sebagai pusat ibadah, kekuasaan, kegiatan rakyat, dan juga ekonomi. Yogyakarta memiliki dua alun-alun, yang mana satu ada di bagian depan keraton yang disebut dengan alun-alun utara, dan satu lagi ada dibagian belakang yang disebut dengan alun-alun selatan. Letak karaton Yogyakarta sendiri ada di sebuah garis imajiner yang telah menghubungkan antara gunung merapi, keraton, dan juga pantai Parangtritis.


Mitos ringin kembar di alun-alun kidul
Pada halaman belakang kediaman raja Jogja ini adalah tempat sarat cerita, dua folklore yang paling akrab dengan alun-alun kidul merupakan tentang keberadaannya yang dibangun supaya belakang keraton terlihat seperti bagian depan, sehingga tidak membelakangi laut selatan yang telah dijaga oleh ratu kidul, yang konon katanya memiliki hubungan magis dengan raja mataram. Cerita kedua ini adalah mitos melewati ringin kembar dengan cara mata tertutup. Permainan seperti ini bernama masangin, singkatan dari masuk kedua beringin.

Selain hal tersebut, di alun-alun kidul, ternyata tidak hanya masangin yang dapat Anda lakukan. Tempat yang dahulunya digunakan untuk berlatih para prajurit kerajaan ini, sekarang telah bertransformasi jadi ruang publik yang riuh akan pengunjung.

Berbagai kalangan serta usia bercampur jadi satu. Sore hari sekitar pukul lima, anak-anak kecil, para remaja, orang dewasa, dan para orang tua datang bermain, berlarian mengejar ratusan gelembung sabun yang telah ditiup oleh penjajanya. Sementara itu di pinggir alun-alun, banyak para pedagang yang siap untuk menggelar tika menunggu tamu datang. 

Beranjak malam harinya, suasana berubah semakin ramai, sepeda tandem dan juga odong-odong berlampu jadi favorit para pengunjung. Yang mana Anda dapat berkeliling alun-alun dengan menyewa sepeda tandem tersebut. Sambil berolahraga malam mengayuh pedal menjadi sensasi tersendiri ketika Anda mengemudikannya menerobos kemacetan jalanan.

Alun-alun kidul memang bukan tempat sepi penenang hati, tetapi suasananya yang beraura riang akan membuat Anda merasa senang. Jika Anda datang di hari sabtu dan minggu di Sasono Hinggil Dwi Abad akan digelar pertunjukan wayang kulit.

Mengenal Lebih Dekat Sang Mahaguru Merapi di Museum Gunung Api Merapi



Beridir artistik dengan latar belakang agungnya gunung merapi, museum 2 lantai yang telah diresmikan tahun 2010 silam ini kini menjadi salah satu objek wisata menarik yang ada di Hargobinangun, Sleman. Bentuk bangunannya sangat unik, berbentuk sebuah trapesium dengan salah satu sisi puncaknya mengerucut mirip segitiga. Saat hari cerah dan gunung merapi tidak tertutupi awan, maka keduanya terlihat begitu gagah.

 
Saat Anda memasuki museum, ada sebuah replika sebaran awan panas dari ketiga bua letusan gunung merapi, yaitu di tahun 1969, 1994, dan juga 2006, akan segera menyambut para pengunjungnya. Alat ini yang nantinya akan membuat seluruh ruanan bergemuruh.
Hanya dengan menekan salah satu tombolnya saja, maka sebaran awan panas serta aliran lava pijar akan tampak menyerupai kejadian di waktu itu. Terbanyang kan betapa dahsyatnya gejolak gunung api tersebut tiap kali meletus?

Beragam koleksi dan zaman ke zaman di museum gunung api merapi
Menjelajahi ruangan lainnya, Anda akan mendapati display tipe letusan gunung api, berbatuan dari gunung merapi sejak tahun 1930, koleksi benar sisa letusan, hingga dengan koleksi foto gunung merapi dari zaman ke zaman. 

Bahkan tidak hanya itu saja, panel-panel ilustrasi dengan gambar kartun juga bisa Anda jumpai dan pastinya ramah bagi anak-anak. Dari sekian banyaknya koleksi benda yang ada, salah satu yang paling menarik adalah batu bom.

Batu ini sepintas tampak seperti baru biasa dengan bentuk yang tidak beraturan, akan tetapi siapa sangka, jika bantu ini merupakan rupa lain dari lava pijar yang bersuhu 700 hingga 1.200 derajat celcius, yang kemudian terlempar keudara serta mengalami proses pendinginan cepat, sebelum sampai ke permukaan bumi.

Setelah Anda puas mengamati setiap lokeksi yang ada di lantai satu, saatnya Anda menelik apa yang ada di lantai duanya. Setidaknya ada sekitar sembilan tipe benda koleksi serta alat peraga yang tersimpan di sana.

Yang mana masing-masing dari koleksi tersebut telah berhasil menarik perhatian tiap pengunjung, apalagi koleksi alat peraga yang ada masih berfungsi yang sangat baik. Jadi, jangan heran jika tiap pengunjung bisa melihat tsunami dan juga gempa bumi mini yang dahsyat tapi tidak membahayakan.
Itulah tadi seputar museum gunung api merapi yang bisa kami informasikan